🔥 Pilihan Saham Premium AI InvestingPro Sekarang diskon hingga 50%AMBIL SALE

Nasib Bank Milik Konglomerat RI: Dari Hartono, Tahir, Hary Tanoe, hingga Chairul Tanjung

Diterbitkan 06/10/2020, 16/15
© Warta Ekonomi. Nasib Bank Milik Konglomerat RI: Dari Hartono, Tahir, Hary Tanoe, hingga Chairul Tanjung
MAYA
-
MEGA
-
BBCA
-
MNCN
-
JKBANK15
-
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta

Perbankan ialah sektor yang mampu melahirkan sederet nama konglomerat Tanah Air. Bahkan, miliarder nomor satu di Indonesia, yakni duo Hartono pun menjadi kaya raya berkat investasinya di PT Bank Central Asia Tbk (JK:BBCA).Â

Selain Hartono bersaudara, ada sejumlah konglomerat lainnya yang juga memiliki bank sebagai ladang uang, sebut saja Dato Sri Tahir, Hary Tanoesoedibjo, dan Chairul Tanjung. Lantas, seperti apa nasib dan kinerja keuangan dari masing-masing bank milik konglomerat tersebut? Adakah yang kebal terhadap Covid-19? Simak ulasan berikut ini.

Baca Juga: Bisnis RS Milik Konglomerat Berdarah-Darah: Dari Boenjamin Setiawan, Mochtar Riady, hingga Tahir

Baca Juga:Â Duel Media Televisi Milik Konglomerat: Hary Tanoesoedibjo vs Eddy Sariaatmadja, Siapa Juara?

BCA - Hartono Bersaudara

Hartono bersaudara menempati posisi pertama sebagai orang terkaya di Indonesia. Sebagian besar kekayaan tersebut bersumber dari investasinya dalam PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang juga merupakan bank swasta terbesar di Tanah Air.Â

Namun, bank sekelas BCA pun nyatanya tak kebal melawan pandemi Covid-19. Buktinya, sepanjang semester I 2020, BCA hanya mampu mengantongi laba bersih sebesar Rp12,24 triliun. Capaian tersebut tercatat 4,8% lebih rendah dari semester I 2019 yang kala itu mencapai Rp12,86 triliun. Kendati begitu, BCA mencetak pertumbuhan yang positif terhadap pendapatan.

Melansir dari laporan keuangan perusahaan, sampai dengan Juni 2020 pendapatan bunga dan syariah bersih BCA tercatat naik 10,49% dari Rp24,50 triliun menjadi Rp27,07 triliun. Pada saat yang bersamaan, beban operasional BCA membengkak 3,8% dari Rp15,65 triliun menjadi Rp16,25 triliun. Hal itulah yang kemudian menggerus laba BCA pada paruh pertama tahun ini.

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berhasil menurunkan biaya dana pihak ketiga sehingga tekanan terhadap pendapatan bunga kotor dapat sedikit ditahan. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa menurunnya laba ini juga merupakan imbas dari adanya pembentukan biaya cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) atas kredit menjadi sebesar Rp6,5 triliun.Â

"Pada semester pertama 2020, perseroan berhasil menurunkan biaya dana pihak ketiga sehingga membantu meringankan tekanan pada pendapatan bunga gross yang diakibatkan oleh peningkatan restrukturisasi kredit," pungkasnya secara virtual pada 27 Juli 2020 lalu.

Bank Mayapada - Dato Sri Tahir

Dato Sri Tahir tersohor sebagai orang terkaya pemilik Mayapada Group. Menyasar hampir semua sektor, Mayapada Group pun juga mempunyai lengan bisnis di industri perbankan melalui PT Bank Mayapada Internasional Tbk (JK:MAYA) (MAYA).Â

Kinerja keuangan Bank Mayapada di tengah pandemi Covid-19 tidak begitu baik. Sebab, Bank Mayapada hanya mampu mengantongi laba sebesar Rp143,56 juta pada semester pertama tahun 2020. Angka tersebut tecatat 51,66% lebih rendah dari laba Bank Mayapada pada semester pertama tahun 2019 yang kala itu mencapai Rp296,95 juta.Â

Anjloknya laba perusahaan merupakan dampak dari tergerusnya pendapatan bunga bersih bank selama enam bulan pertama tahun ini. Merujuk pada laporan keuangan perusahaan, pendapatan bunga bersih Bank Mayapada turun sedalam 98,97% dari Rp1,30 miliar pada Juni 2019 menjadi hanya Rp13,40 juta pada Juni 2020.

Jika dibedah, Bank Mayapada membukukan pertumbuhan pendapatan giro dari sebelumnya Rp54 juta menjadi Rp91 juta. Pendapatan dari obligasi pemerintah juga bertumbuh positif dari Rp24,40 miliar menjadi Rp91,74 miliar. Namun, beberapa sumber pendapatan lainnya mempunyai nasib yang berbeda.

Misalnya saja, pendapatan dari penempatan di BI dan bank lain turun dari Rp81,20 miliar menjadi Rp49,84 miliar. Begitu pun dengan pendapatan efek menurun dari Rp149,79 miliar menjadi Rp60,84 miliar. Ditambah lagi, pendapatan efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali ikut tergerus dari Rp239,41 miliar menjadi Rp89,12 miliar.Â

Berbagai sumber pendapatan tersebut masih harus terkikis oleh beban bunga bersih yang angkanya menembus Rp2,53 miliar pada paruh pertama tahun 2020 sehingga pendapatan dan keuntungan yang dikantongi Bank Mayapada menurun secara tahunan.

MNC (JK:MNCN) Bank - Hary Tanoesoedibjo

Bank swasta lainnya yang juga dimiliki oleh konglomerat Indonesia adalah PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP). Kinerja bank dalam jaringan MNC Group milk Hary Tanoesoedibjo ini juga turut tertekan sepanjang semester I 2020 tahun ini. Namun, tekanan tersebut terbilang tidak signifikan.

Hal itu dapat tercermin dari capaian laba bersih MNC Bank hanya turun tipis 2,93% dari Rp5,28 miliar pada Juni 2019 menjadi Rp5,13 miliar pada Juni 2020. Dari segi pendapatan MNC Bank bahkan mampu mencetak kenaikan pada paruh pertama tahun ini.

Dalam laporan keuangan perusahaan dinyatakan bahwa per Juni 2020 ini, MNC Bank mengantongi pendapatan bunga bersih senilai Rp215,88 miliar. Angka tersebut 11,00% lebih tinggi dari Juni 2019 lalu yang hanya Rp194,47 miliar. Kinerja keuangan, khususnya pendapatan menjadi positif karena MNC Bank mampu menekan beban bunga dari yang sebelumya 326,15 miliar menjadi hanya Rp284,16 miliar.Â

Ditambah lagi, sepanjang enam bulan pertama tahun ini, sejumlah pos beban lainnya juga ikut membaik. Misalnya saja, beban kerugian nilai angkanya menurun dari 38,35 miliar pada tahun lalu menjadi Rp37,87 miliar pada tahun ini. Presiden Direktur MNC Bank, Mahdan, mengungkapkan bahwa selama masa pandemi ini, perusahaan telah mengupayakan untuk mengambil langkah yang tepat dan beradaptasi dengan situasi perlambatan ekonomi.Â

"Saat ini industri perbankan termasuk MNC Bank tengah berada dalam situasi yang membutuhkan ketepatan langkah dan keputusan, dimana pada satu sisi kami harus beradaptasi dengan disrupsi yang dihadirkan fintech. Di sisi lain, kami juga harus beradaptasi dengan perekonomian yang melambat namun tetap menjaga para debitur dapat melakukan bisnisnya," ujarnya seperti dikutip dari mncbank.co.id pada Selasa, 6 Oktober 2020.

Bank Mega - Chairul Tanjung

Konglomerat berjulukan Si Anak Singkong, yakni Chairul Tanjung juga mempunyai gurita bisnis di sektor perbankan melalui PT Bank Mega Tbk (JK:MEGA). Di antara tiga lainnya, kinerja Bank Mega terbilang yang paling positif pada semester pertama tahun 2020 ini.Â

Seakan kebal pandemi, saat laba bank lainnya anjlok, Bank Mega justru mencetak pertumbuhan signifikan hingga 79,59% dari Rp891,39 miliar pada semester I 2019 menjadi Rp1,18 triliun pada semester I 2020. Padahal, pendapatan perusahaan periode tersebut hanya bertumbuh satu digit.

Dilansir dari laporan keuangan perusahaan, Bank Mega mengantongi pendapatan bunga bersih senilai Rp1,98 triliun per JUni 2020. Capaian tersebut melonjak 9,39% dari Juni 2019 lalu yang hanya Rp1,81 triliun. Jika dibedah, penyumbang terbesar atas pendapatan bunga Bank Mega adalah dari kredit yang mencapai Rp3,06 triliun pada awal tahun ini. Kontributor berikutnya adalah pendapatan efek sebesar Rp905,62 miliar dan penempatan di BI dan bank lain sebesar Rp64,06 miliar.

Pada saat bersamaan, beban operasional Bank Mega juga melonjak tinggi dari yang sebelumnya hanya Rp1,19 triliun menjadi Rp1,59 triliun. Kinerja keuangan Bank Mega menjadi begitu positif karena mampu mengikis beban operasional hingga puluhan miliar rupiah selama enam bulan pertama tahun ini. Jika pada Juni 2019 lalu beban operasional tercatat sebesar Rp1,78 triliun, angkanya jauh menurun menjadi Rp1,70 triliun pada Juni 2020 ini.Penulis/Editor: Lestari Ningsih
Foto: Sufri Yuliardi

Komentar terkini

Pengungkapan Risiko: Perdagangan instrumen finansial dan/atau mata uang kripto membawa risiko tinggi, termasuk risiko kehilangan sebagian atau seluruh nilai investasi Anda, dan mungkin tidak sesuai untuk sebagian investor. Harga mata uang kripto amat volatil dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti peristiwa finansial, regulasi, atau politik. Trading dengan margin meningkatkan risiko finansial.
Sebelum memutuskan untuk memperdagangkan instrumen finansial atau mata uang kripto, Anda harus sepenuhnya memahami risiko dan biaya terkait perdagangan di pasar finansial, mempertimbangkan tujuan investasi, tingkat pengalaman, dan selera risiko Anda dengan cermat, serta mencari saran profesional apabila dibutuhkan.
Fusion Media mengingatkan Anda bahwa data di dalam situs web ini tidak selalu real-time atau akurat. Data dan harga di situs web ini. Data dan harga yang ditampilkan di situs web ini belum tentu disediakan oleh pasar atau bursa, namun mungkin disediakan oleh pelaku pasar sehingga harga mungkin tidak akurat dan mungkin berbeda dengan harga aktual pasar. Dengan kata lain, harga bersifat indikatif dan tidak sesuai untuk tujuan trading. Fusion Media dan penyedia data mana pun yang dimuat dalam situs web ini tidak bertanggung jawab atas kerugian atau kehilangan apa pun yang diakibatkan oleh trading Anda atau karena Anda mengandalkan informasi yang dimuat dalam situs web ini.
Anda dilarang untuk menggunakan, menyimpan, memperbanyak, menampilkan, mengubah, meneruskan, atau menyebarkan data yang dimuat dalam situs web ini tanpa izin eksplisit tertulis sebelumnya dari Fusion Media dan/atau penyedia data. Semua hak kekayaan intelektual dipegang oleh penyedia dan/atau bursa yang menyediakan data yang dimuat dalam situs web ini.
Fusion Media mungkin mendapatkan imbalan dari pengiklan yang ditampilkan di situs web ini berdasarkan interaksi Anda dengan iklan atau pengiklan.
Versi bahasa Inggris dari perjanjian ini adalah versi utama, yang akan berlaku setiap kali ada perbedaan antara versi bahasa Inggris dan versi bahasa Indonesia.
© 2007-2024 - Fusion Media Limited. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.