Breaking News
0

Pemerintah Optimis Ciptakan 2 Juta Lapangan Pekerjaan pada 2019

Ekonomi09/11/2018 11:02
Tersimpan. Lihat Item Tersimpan.
Artikel ini telah tersimpan di Item Tersimpan anda
 
© Warta Ekonomi. Pemerintah Optimis untuk Ciptakan 2 Juta Lapangan Pekerjaan pada 2019
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta

Dalam kurun waktu 2015 sampai 2019, pemerintah menargetkan untuk menyediakan kesempatan kerja sebesar 10 juta orang. Hingga 2018, pemerintah sudah menciptakan 9,38 juta kesempatan kerja. Artinya, pada 2019, diperlukan sekitar 2 juta lapangan pekerjaan lagi untuk dapat memenuhi target nawacita dalam menciptakan 10 juta lapangan kerja. Pemerintah optimis dapat melampaui target bila angka tersebut dapat dicapai di tahun depan.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, menambahkan, sesuai dengan Sakernas Agustus 2018, penciptaan lapangan kerja hingga Agustus 2018 mencapai angka 2,99 juta. Sementara, pada 2017 angkanya mencapai 2,61 juta, pada 2016 sebesar 3,59 juta. Terjadi penurunan pada 2017, tetapi kembali naik di tahun ini.

“Dalam 5 tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan kesempatan kerja di Indonesia mencapai angka 1,99%,” kata Bambang, pada Forum Merdeka Barat 9 dengan tema “Pengurangan Pengangguran” di Gedung Bappenas, Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Bambang kemudian mengatakan, jumlah lapangan kerja Indonesia pada 2018 ini sudah melampaui target Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, dilihat dari peningkatan sebesar 2,99 juta dari tahun 2017. Dengan berhasil diciptakannya 9,38 lapangan kerja, jumlah pengangguran pun menurun sebesar 40 ribu orang. Hal itu membuat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berhasil turun menjadi 5,34% di tahun ini.

“Bila pertumbuhan ekonomi mencapai targer RKP 2019, yakni sebesar 5,2-5,6%, TPT dapat diturunkan menjadi 4,8-5,2% pada tahun depan. Penurunan tersebut dapat diraih dengan menciptakan kesempatan kerja sejumlah 2,6-2,9 juta orang dan lapangan kerja formal di sektor bernilai tinggi dapat menyerap angkatan kerja dengan tingkat pendidikan SMA ke atas," jelasnya.

Bambang juga membahas mengenai kondisi TPT di perkotaan dan perdesaan. Menurutnya, bila dibandingkan dengan tahun lalu, TPT di perkotaan mengalami penurunan senilai 0,34 poin, sedangkan TPT di perdesaan meningkat sebesar 0,03 poin. Kondisi tersebut terjadi karena jumlah pekerja sektor pertanian menyusut.

“Para pekerja di desa yang berhenti dari sektor pertanian, tetapi belum memperoleh pekerjaan baru, menjadi beban pengangguran di perdesaan,” tambahnya.

Berdasarkan data, penciptaan kesempatan kerja paling rendah terjadi pada 2015, yakni hanya 0,19 juta). Itu terjadi karena beberapa faktor, seperti (1) pelemahan USD menyebabkan impor bahan baku yang membuat sektor industri terpukul, dan; (2) pengurangan jumlah pekerja yang cukup besar pada sektor pertanian karena beralih ke sektor jasa. Sementara, berdasarkan wilayah, jumlah pengangguran terendah pada 2018 berada di Provinsi Bali (1,37%), Nusa Tenggara Timur (3,01%), dan Sulawesi Barat (3,16%).

“Sementara pengangguran tertinggi pada 2018 terdapat di wilayah: Banten (8,52%), Jawa Barat (8,17%), dan Maluku (7,27%)," pungkasnya.

Data-data tersebut merupakan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2018 yang dijalankan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang menggunakan 200 ribu sampel rumah tangga hingga ke tingkat kabupaten/kota. Berdasarkan survei tersebut, diperoleh hasil, data Sakernas Agustus 2018 terlihat lebih tinggi dari angka Sakernas Februari 2018.

Catatan pentingnya, untuk menggambarkan kondisi tahunan lebih baik jika menggunakan data Agustus karena adanya beberapa faktor. Pertama, masa tahun ajaran telah selesai sehingga banyak lulusan sekolah masuk angkatan kerja dan belum terserap pasar kerja. Kedua, masa tersebut bukan merupakan masa panen besar sehingga terjadi perpindahan besar ke kelompok bukan angkatan kerja, jumlah angkatan kerja pun cenderung lebih kecil.

Oleh karena itu, perbandingannya harus merujuk pada angka di periode yang sama, pada tahun sebelumnya (year on year). Secara matematis, TPT akan membesar karena angkatan kerja sebagai penyebut dalam rumus berkurang banyak, meskipun jumlah penganggurannya menurun.

Penulis: Tanayastri Dini Isna
Editor: Kumairoh
Foto: Forum Merdeka Barat (FMB) 9

Pemerintah Optimis Ciptakan 2 Juta Lapangan Pekerjaan pada 2019
 

Artikel Terkait

Tambahkan Komentar

Panduan Komentar


Kami mendorong Anda untuk menggunakan fitur komentar guna berinteraksi dengan pengguna lain, berbagi perspektif, dan saling bertanya antara penulis dan yang lainnya. Namun demikian, mohon perhatikan beberapa kriteria berikut demi menjaga interaksi berkualitas tinggi yang kita hargai dan harapkan: 

  • Perkaya percakapan
  • Jaga fokus dan hindari keluar jalur. Publikasikanlah hanya materi yang relevan dengan topik yang dibicarakan.
  • Hargai orang lain. Setiap opini, bahkan opini negatif sekali pun, dapat disampaikan secara positif dan diplomatis.
  • Gunakan gaya penulisan baku. Gunakan tanda baca dan huruf besar/kecil dengan sesuai.
  • CATATAN: Tautan dan pesan spam dan/atau bersifat promosi dalam komentar akan dihapus.
  • Hindari melontarkan kata-kata kasar, fitnah, atau serangan pribadi terhadap penulis atau pengguna lain.
  • Komentar harus dalam Bahasa Indonesia.

Pelaku spam atau pelanggaran akan dikeluarkan dari situs dan dilarang melakukan registrasi kembali atas kebijaksanaan Investing.com sendiri.

Tulis pendapat Anda di sini
 
Anda yakin ingin menghapus grafik ini?
 
Kirim
Kirim juga ke :
 
Ganti grafik terlampir dengan grafik baru?
1000
Saat ini Anda tidak dapat menuliskan komentar karena laporan negatif dari pengguna. Status Anda akan ditinjau oleh moderator.
Harap tunggu sesaat sebelum Anda berikan komentar lagi.
Terima kasih atas komentar Anda. Harap diperhatikan bahwa seluruh komentar akan berstatus tunggu hingga mendapatkan persetujuan dari moderator. Karenanya, akan ada jeda waktu sebelum komentar tersebut ditampilkan di situs web kami.
 
Anda yakin ingin menghapus grafik ini?
 
Kirim
 
Ganti grafik terlampir dengan grafik baru?
1000
Saat ini Anda tidak dapat menuliskan komentar karena laporan negatif dari pengguna. Status Anda akan ditinjau oleh moderator.
Harap tunggu sesaat sebelum Anda berikan komentar lagi.
Tambahkan Grafik untuk Berkomentar
Konfirmasi Blokir

Anda yakin ingin memblokir %USER_NAME%?

Jika ya, Anda dan %USER_NAME% tidak akan dapat melihat posting satu sama lain di Investing.com.

%USER_NAME% berhasil dimasukkan ke Daftar Blokir Anda

Karena Anda baru saja membatalkan blokir pengguna ini, Anda harus menunggu 48 jam sebelum kembali memblokir.

Laporkan komentar ini

Menurut saya, komentar ini:

Komentar diberi tanda bendera

Terima Kasih!

Laporan Anda telah terkirim untuk ditinjau oleh moderator kami
Disklaimer: Fusion Media would like to remind you that the data contained in this website is not necessarily real-time nor accurate. All CFDs (stocks, indexes, futures) and Forex prices are not provided by exchanges but rather by market makers, and so prices may not be accurate and may differ from the actual market price, meaning prices are indicative and not appropriate for trading purposes. Therefore Fusion Media doesn`t bear any responsibility for any trading losses you might incur as a result of using this data.

Fusion Media or anyone involved with Fusion Media will not accept any liability for loss or damage as a result of reliance on the information including data, quotes, charts and buy/sell signals contained within this website. Please be fully informed regarding the risks and costs associated with trading the financial markets, it is one of the riskiest investment forms possible.
Daftar dengan Google
atau
Daftar dengan Email