Breaking News
0

Jiwasraya Salah Kelola, OJK ke Mana?

Ekonomi12/10/2018 09:40
Tersimpan. Lihat Item Tersimpan.
Artikel ini telah tersimpan di Item Tersimpan anda
 
2/2 Jiwasraya 2/2

Oleh Apriyani

Jakarta – Asuransi Jiwasraya gagal bayar Rp802 miliar atas investasi yang jatuh tempo 10 Oktober 2018. Kesulitan likuiditas ini baru terungkap dari sepucuk surat yang ditujukan kepada bank bank yang menjual produk JS Proteksi Plan dengan konsep bancassurance. Kesulitan likuiditas ini dibenarkan oleh Asmawi Sjam, Direktur Utama, Jiwasraya yang diangkat dalam RUPS 18 Mei 2018 dan efektif menjabat per 27 Agustus 2018.

Diketahui ada tujuh bank yang memasarkan produk tersebut. Diantaranya, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Tabungan Negara (BTN), Standard Chartered Bank, Bank KEB Hana Indonesia, Bank Victoria, Bank ANZ, dan Bank QNB Indonesia.

Sumber Infobank mengatakan, dalam kasus ini ada miss management lama dalam pengelolaan investasi dan sekaligus membuktikan lemahnya pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Disebutkan, dari total kelolaan saving plan Jiwasraya, 75 persen berbentuk aset produk finansial dan 80 persen tertanam di pasar saham dan reksadana dan sisanya sekitar 25 persen berupa tanah dan properti. “Ini warisan dari manajemen lama,” kata sumber InfoBank.

Ia mengatakan, secara umum kombinasi antara lemahnya tata kelola, kurangnya kepatuhan dan sangat mungkin cacat produk yang dijual.

“Mereka (Jiwasraya) menjanjikan bunga 10% kepada nasabah. Dengan biaya pemasaran/komisi agen/febased income bank 3%. lantas darimana mereka bisa investasikan dana tersebut dengan return 15% dengan asumsi perusahaan mengambil margin keuntungan 2%,” kata sumber infobank yang tidak mau disebutkan namanya tersebut, Kamis, 11 Oktober 2018.

Seperti diketahui, JS Proteksi Plan adalah produk asuransi jiwa yang tidak hanya memberikan manfaat proteksi meninggal dunia atau cacat tetap total karena kecelakaan, JS Proteksi Plan ini juga memberikan manfaat kepastian investasi sebesar pengembalian pokok dan hasil investasi yang dijamin.

Berdasarkan laporan keuangan Jiwasraya tahun 2017 (unaudited) mencatat laba bersih senilai Rp2,4 triliun. Tapi, manajemen baru minta diaudit ulang oleh Pricewaterhouse Coopers (Pwc). Hasilnya, laba kempes menjadi Rp360 miliar. Selisih ini karena sejatinya Jiwasraya tidak mencadangkan sesuai ketentuan.Untuk itu, yang dulu disebut opini dengan pengecualian kini menunukan ketidakwajaran dalam beberapa item tertentu apa yang sering disebut little adverse.

Jumlah investasi perusahaan tercatat sebanyak Rp42,31 triliun, dengan investasi paling banyak di reksa dana Rp19,17 triliun, disusul saham Rp6,63 triliun dan penyertaan langsung Rp6,55 triliun. Sedangkan jumlah pendapatan premi neto tercatat Rp21,68 triliun.

Sementara total liabilitas Jiwasraya tahun 2017 tercatat sebanyak Rp40,08 triliun dengan cadangan teknis Rp39,56 triliun. Sedangkan total ekuitas sebesar Rp5,60 triliun

Melihat hal ini, pengamat asuransi, Irvan Rahardjo mengatakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus segera turun tangan karena hal ini menyangkut kepercayaan masyarakat, yang merosot sejak kasus AJB Bumiputera tak kunjung ada penyelesaian dan kasus-kasus penutupan asuransi yang tidak disertai kepastian hukum bagi nasabah.

Selain itu pemerintah didesak untuk segera membentuk Lembaga Penjaminan Polis (LPP). Karena pemerintah hingga kini belum memenuhi mandat Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian yang mengamanatkan penyelenggaraan program penjaminan polis.

Seperti diketahui, pembentukan LPP merupakan amanat UU Perasuransian, yang mandat pembentukannya paling lambat 3 tahun setelah aturan tersebut diundangkan atau tiga tahun sejak 17 Oktober 2014.

“OJK harus segera turun tangan,” kata Irvan. (*)

Jiwasraya Salah Kelola, OJK ke Mana?
 

Artikel Terkait

Tambahkan Komentar

Panduan Komentar


Kami mendorong Anda untuk menggunakan fitur komentar guna berinteraksi dengan pengguna lain, berbagi perspektif, dan saling bertanya antara penulis dan yang lainnya. Namun demikian, mohon perhatikan beberapa kriteria berikut demi menjaga interaksi berkualitas tinggi yang kita hargai dan harapkan: 

  • Perkaya percakapan
  • Jaga fokus dan hindari keluar jalur. Publikasikanlah hanya materi yang relevan dengan topik yang dibicarakan.
  • Hargai orang lain. Setiap opini, bahkan opini negatif sekali pun, dapat disampaikan secara positif dan diplomatis.
  • Gunakan gaya penulisan baku. Gunakan tanda baca dan huruf besar/kecil dengan sesuai.
  • CATATAN: Tautan dan pesan spam dan/atau bersifat promosi dalam komentar akan dihapus.
  • Hindari melontarkan kata-kata kasar, fitnah, atau serangan pribadi terhadap penulis atau pengguna lain.
  • Komentar harus dalam Bahasa Indonesia.

Pelaku spam atau pelanggaran akan dikeluarkan dari situs dan dilarang melakukan registrasi kembali atas kebijaksanaan Investing.com sendiri.

Tulis pendapat Anda di sini
 
Anda yakin ingin menghapus grafik ini?
 
Kirim
Kirim juga ke :
 
Ganti grafik terlampir dengan grafik baru?
1000
Saat ini Anda tidak dapat menuliskan komentar karena laporan negatif dari pengguna. Status Anda akan ditinjau oleh moderator.
Harap tunggu sesaat sebelum Anda berikan komentar lagi.
Terima kasih atas komentar Anda. Harap diperhatikan bahwa seluruh komentar akan berstatus tunggu hingga mendapatkan persetujuan dari moderator. Karenanya, akan ada jeda waktu sebelum komentar tersebut ditampilkan di situs web kami.
 
Anda yakin ingin menghapus grafik ini?
 
Kirim
 
Ganti grafik terlampir dengan grafik baru?
1000
Saat ini Anda tidak dapat menuliskan komentar karena laporan negatif dari pengguna. Status Anda akan ditinjau oleh moderator.
Harap tunggu sesaat sebelum Anda berikan komentar lagi.
Tambahkan Grafik untuk Berkomentar
Konfirmasi Blokir

Anda yakin ingin memblokir %USER_NAME%?

Jika ya, Anda dan %USER_NAME% tidak akan dapat melihat posting satu sama lain di Investing.com.

%USER_NAME% berhasil dimasukkan ke Daftar Blokir Anda

Karena Anda baru saja membatalkan blokir pengguna ini, Anda harus menunggu 48 jam sebelum kembali memblokir.

Laporkan komentar ini

Menurut saya, komentar ini:

Komentar diberi tanda bendera

Terima Kasih!

Laporan Anda telah terkirim untuk ditinjau oleh moderator kami
Disklaimer: Fusion Media would like to remind you that the data contained in this website is not necessarily real-time nor accurate. All CFDs (stocks, indexes, futures) and Forex prices are not provided by exchanges but rather by market makers, and so prices may not be accurate and may differ from the actual market price, meaning prices are indicative and not appropriate for trading purposes. Therefore Fusion Media doesn`t bear any responsibility for any trading losses you might incur as a result of using this data.

Fusion Media or anyone involved with Fusion Media will not accept any liability for loss or damage as a result of reliance on the information including data, quotes, charts and buy/sell signals contained within this website. Please be fully informed regarding the risks and costs associated with trading the financial markets, it is one of the riskiest investment forms possible.
Daftar dengan Google
atau
Daftar dengan Email