Breaking News
Investing Pro 0
DISKON Cyber Monday Diperpanjang: Diskon InvestingPro+ hingga 60% KLAIM PENAWARAN

Minyak Bisa Tetap Rentan di Minggu Thanksgiving, Bagaimana Dolar?

id.investing.com/analysis/minyak-bisa-tetap-rentan-di-minggu-thanksgiving-bagaimana-dolar-200238766
Minyak Bisa Tetap Rentan di Minggu Thanksgiving, Bagaimana Dolar?
Oleh Barani Krishnan/Investing.com   |  21/11/2022 18:46
Tersimpan. Lihat Item Tersimpan.
Artikel ini telah tersimpan di Item Tersimpan anda
 
 
XAU/USD
+0,64%
Tambahkan/Hapus dari Watchlist
Tambahkan ke Watchlist
Tambahkan Posisi

Posisi berhasil ditambahkan ke:

Beri nama portofolio kepemilikan Anda
 
Gold
+1,91%
Tambahkan/Hapus dari Watchlist
Tambahkan ke Watchlist
Tambahkan Posisi

Posisi berhasil ditambahkan ke:

Beri nama portofolio kepemilikan Anda
 
LCO
-0,25%
Tambahkan/Hapus dari Watchlist
Tambahkan ke Watchlist
Tambahkan Posisi

Posisi berhasil ditambahkan ke:

Beri nama portofolio kepemilikan Anda
 
CL
-0,17%
Tambahkan/Hapus dari Watchlist
Tambahkan ke Watchlist
Tambahkan Posisi

Posisi berhasil ditambahkan ke:

Beri nama portofolio kepemilikan Anda
 
DXY
-0,43%
Tambahkan/Hapus dari Watchlist
Tambahkan ke Watchlist
Tambahkan Posisi

Posisi berhasil ditambahkan ke:

Beri nama portofolio kepemilikan Anda
 
2222
+0,90%
Tambahkan/Hapus dari Watchlist
Tambahkan ke Watchlist
Tambahkan Posisi

Posisi berhasil ditambahkan ke:

Beri nama portofolio kepemilikan Anda
 

Apa yang bisa memperlambat atau menghentikan serangan bear minyak?

Ini adalah pertanyaan yang mungkin ditanyakan oleh trader minyak mentah dengan sungguh-sungguh saat pasar turun dalam berita utama COVID China dan karena harga minyak merosot lagi pada awal minggu baru yang akan lebih pendek karena Libur Thanksgiving AS.

Notulen rapat Federal Reserve Kamis - yang datang tepat menjelang hari libur sesi Kamis - merupakan sorotan utama untuk pasar dan dapat membuat trader tetap waspada saat mereka mencari indikasi bahwa laju kenaikan suku bunga bank sentral mungkin melambat. Jika memang ada sinyal seperti itu, maka "King Dollar" kemungkinan akan kehilangan kekuatan lebih lanjut, sehingga bisa memberikan bantuan untuk komoditas berdenominasi dolar seperti minyak.

Selain itu, periode musim belanja paling penting tahun ini dimulai pada hari Jumat yang akan menjadi ujian utama bagi perusahaan ritel AS: event Black Friday yang secara tradisional berlangsung sehari setelah libur Thanksgiving dan secara tidak resmi memulai awal pemasukan belanja sektor ritel menjelang Natal.

Perkiraan ekonomi dunia terbaru dari OECD pada hari Selasa bersama dengan data PMI global akan memberikan wawasan penting lainnya mengenai kesehatan ekonomi dunia.

Harga minyak turun pada hari Senin, melanjutkan kerugian tajam dari minggu lalu akibat kekhawatiran atas meningkatnya infeksi COVID di China dan potensi resesi global mengurangi prospek permintaan.

Laporan juga menyebutkan bahwa pasokan minyak mentah di Eropa telah stabil, dan perusahaan penyuling terus menyimpan stok minyak jelang larangan Barat pada ekspor minyak mentah Rusia. Tetapi larangan tersebut masih diperkirakan akan memperketat pasokan minyak dalam beberapa bulan mendatang, utamanya jika persediaan menipis pada tingkat yang lebih cepat dari yang diperkirakan.

West Texas Intermediate (WTI) yang diperdagangkan di New York, patokan untuk minyak mentah AS, turun 50 sen, atau 0,6%, di $79,61 per barel untuk kontrak penyerahan Desember pukul 14.20 WIB. WTI mengakhiri minggu lalu anjlok 10%, menambah defisit minggu sebelumnya hampir 4%.

Brent yang diperdagangkan di London turun 61 sen, atau sebesar 0,7%, ke $87,01, setelah turun hampir 9% minggu lalu dan penurunan 2,6% minggu sebelumnya.

"Terlepas dari prospek melemahnya permintaan karena pembatasan COVID China, rebound dolar AS hari ini juga merupakan faktor bearish untuk harga minyak," Tina Teng, analis CMC Markets, mengatakan dalam komentar yang dilansir Reuters.

Meningkatnya kasus COVID di China mengundang langkah-langkah penguncian baru di beberapa kota terbesar di negara itu, menimbulkan kekhawatiran atas melambatnya permintaan minyak mentah di negara importir minyak terbesar di dunia. Negara tersebut saat ini sedang berjuang menghadapi wabah COVID terburuknya sejak April, yang telah membuat beberapa kota ditempatkan di bawah lockdown.

Krisis COVID China telah sangat membebani harga minyak dalam beberapa pekan terakhir. Sebuah laporan awal bulan ini mengatakan bahwa beberapa penyuling China meminta Saudi Aramco (TADAWUL:2222) untuk memasok minyak dalam jumlah yang lebih rendah pada bulan Desember, yang dapat mengindikasikan perlambatan pengiriman minyak ke negara tersebut. China juga telah meningkatkan kuota ekspor bahan bakar olahannya, yang berpotensi menyiratkan surplus stok minyak mentah akibat berkurangnya permintaan.

"Sentimen risiko menjadi rapuh karena semua data ekonomi negara-negara besar baru-baru ini menunjukkan skenario resesi, terutama di Inggris dan zona euro," kata Teng CMC, menambahkan bahwa komentar hawkish dari Federal Reserve pekan lalu juga memicu kekhawatiran atas kemungkinan suku bunga AS yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

The Fed akan mempublikasikan notulen rapat November pada hari Kamis dan investor bersemangat untuk melihat setiap tanda bahwa para pengambil kebijakan kemungkinan mempertimbangkan untuk memperlambat proses pengetatan setelah menaikkan suku bunga besar tahun ini daripada kapan pun sejak 1980-an.

Ketua Fed Jerome Powell dan pengambil kebijakan lainnya telah mengisyaratkan bahwa bank sentral dapat beralih ke kenaikan suku bunga yang lebih kecil bulan depan untuk menghindari pengetatan lebih dari yang diperlukan dan memicu ekonomi ke dalam resesi.

Pada saat yang sama, Powell mengatakan suku bunga pada akhirnya mungkin perlu naik lebih tinggi dari 4.6% yang menurut para pembuat kebijakan pada bulan September akan dibutuhkan pada tahun depan.

Inflasi, yang diukur oleh Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat 7,7% selama tahun ini hingga Oktober, tumbuh dengan laju paling lambat dalam sembilan bulan. Sebelumnya, IHK tumbuh sebesar 9,1% selama 12 bulan hingga Juni, tertinggi dalam empat dekade.

Turunnya IHK telah meningkatkan ekspektasi bahwa Fed dapat menindaklanjuti dengan memperlambat laju kenaikan suku bunganya juga. Louis, James Bullard, yang dianggap sebagai "superhawk" bank sentral, meredam spekulasi atas poros suku bunga besar yang berarti ketika ia mengatakan suku bunga yang lebih tinggi untuk lebih lama akan menjadi satu-satunya cara bagi Fed untuk tetap membawa inflasi kembali ke target 2% per tahun.

Indeks Dolar, yang mencapai level tertinggi 20 tahun di 114,78 pada bulan September, berada di posisi terendah tiga bulan belakangan ini. Namun, dalam perdagangan Asia hari Senin, dolar AS naik selama tiga sesi berturut-turut, menanggapi potensi perubahan mood Fed untuk poros suku bunga.

Namun, dolar ada di jalur untuk mengalami kerugian kuartalan terbesar sejak kuartal II tahun 2017, para investor bertanya apakah ini telah melewati puncaknya.

Kenaikan dolar telah menjadi tema perdagangan yang dominan pada tahun 2022, berkat kenaikan suku bunga Fed yang cepat, memberikan mata uang tersebut keunggulan atas rekan-rekannya di depan kalangan investor.

Analis dari Goldman Sachs mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka berpikir bahwa level puncak dolar "beberapa kuartal lagi," dan mencatat bahwa mereka tidak mengharapkan Fed untuk memulai pelonggaran hingga 2024. Pertumbuhan AS juga diperkirakan tidak akan segera mencapai titik terendah, kata mereka.

Itu bisa menimbulkan lebih banyak masalah bagi minyak dan komoditas berdenominasi dolar lainnya seperti emas.

Harga minyak mentah juga masuk pada hari Jumat lalu ke dalam periode "contango" - struktur pasar yang mendefinisikan kelemahan - untuk pertama kalinya sejak 2021. Di bawah dinamika ini, kontrak minyak bulan depan di pasar berjangka diperdagangkan dengan harga diskon untuk bulan terdekat. Meskipun perbedaannya sendiri mungkin kecil, hal itu memaksa pembeli yang ingin memiliki posisi dalam minyak pada saat kontrak berakhir akan membayar lebih banyak untuk beralih ke kontrak bulan depan yang baru.

Dengan negativitas seperti itu dalam minyak mentah sekarang, semua mata tertuju pada apa yang akan dilakukan kelompok produsen minyak OPEC+ ketika bertemu pada 4 Desember.

OPEC+ - kelompok yang menggabungkan OPEC, atau Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang dipimpin 13 anggota Saudi, dengan 10 produsen minyak lainnya yang dimotori oleh Rusia - sepakat pada pertemuan terakhirnya untuk memangkas produksi sebanyak 2 juta barel per hari untuk meningkatkan harga minyak Brent dan WTI AS yang telah turun tajam dari level tertinggi Maret.

Tepat setelah keputusan OPEC+ itu, Brent naik dari level terendah sekitar $82 per barel menjadi hampir $100 dalam beberapa hari (sempat mencapai hampir $140 pada awal Maret). WTI naik dari $76 ke $96 (WTI sempat mencapai lebih dari $130 pada bulan Maret). Kedua tolok ukur tersebut telah kehilangan semua keuntungan itu dalam dua minggu terakhir, menimbulkan pertanyaan apakah OPEC+ akan melakukan lebih banyak pemotongan untuk menopang pasar lagi.

Disclaimer: Barani Krishnan menggunakan berbagai pandangan di luar pandangannya sendiri untuk membawa keragaman pada analisisnya mengenai pasar apa pun. Sebagai netralitas, ia terkadang menyajikan pandangan kontrarian dan variabel pasar. Ia tidak memiliki posisi dalam komoditas dan sekuritas yang ditulisnya.

Minyak Bisa Tetap Rentan di Minggu Thanksgiving, Bagaimana Dolar?
 

Artikel Terkait

Minyak Bisa Tetap Rentan di Minggu Thanksgiving, Bagaimana Dolar?

Tambahkan Komentar

Panduan Komentar


Kami mendorong Anda untuk menggunakan fitur komentar guna berinteraksi dengan pengguna lain, berbagi perspektif, dan saling bertanya antara penulis dan yang lainnya. Namun demikian, mohon perhatikan beberapa kriteria berikut demi menjaga interaksi berkualitas tinggi yang kita hargai dan harapkan: 

  • Perkaya percakapan
  • Jaga fokus dan hindari keluar jalur. Publikasikanlah hanya materi yang relevan dengan topik yang dibicarakan.
  • Hargai orang lain. Setiap opini, bahkan opini negatif sekali pun, dapat disampaikan secara positif dan diplomatis.
  • Gunakan gaya penulisan baku. Gunakan tanda baca dan huruf besar/kecil dengan sesuai.
  • CATATAN: Tautan dan pesan spam dan/atau bersifat promosi dalam komentar akan dihapus.
  • Hindari melontarkan kata-kata kasar, fitnah, atau serangan pribadi terhadap penulis atau pengguna lain.
  • Komentar harus dalam Bahasa Indonesia.

Pelaku spam atau pelanggaran akan dikeluarkan dari situs dan dilarang melakukan registrasi kembali atas kebijaksanaan Investing.com sendiri.

Tulis pendapat Anda di sini
 
Anda yakin ingin menghapus grafik ini?
 
Kirim
Kirim juga ke :
 
Ganti grafik terlampir dengan grafik baru?
1000
Saat ini Anda tidak dapat menuliskan komentar karena laporan negatif dari pengguna. Status Anda akan ditinjau oleh moderator.
Harap tunggu sesaat sebelum Anda berikan komentar lagi.
Terima kasih atas komentar Anda. Harap diperhatikan bahwa seluruh komentar akan berstatus tunggu hingga mendapatkan persetujuan dari moderator. Karenanya, akan ada jeda waktu sebelum komentar tersebut ditampilkan di situs web kami.
Komentar (1)
Jerry Mahaputra
Jerry Mahaputra 21/11/2022 22:19
Tersimpan. Lihat Item Tersimpan.
Komentar ini telah tersimpan di Item Tersimpan
goodjob
 
Anda yakin ingin menghapus grafik ini?
 
Kirim
 
Ganti grafik terlampir dengan grafik baru?
1000
Saat ini Anda tidak dapat menuliskan komentar karena laporan negatif dari pengguna. Status Anda akan ditinjau oleh moderator.
Harap tunggu sesaat sebelum Anda berikan komentar lagi.
Tambahkan Grafik untuk Berkomentar
Konfirmasi Blokir

Anda yakin ingin memblokir %USER_NAME%?

Jika ya, Anda dan %USER_NAME% tidak akan dapat melihat posting satu sama lain di Investing.com.

%USER_NAME% berhasil dimasukkan ke Daftar Blokir Anda

Karena Anda baru saja membatalkan blokir pengguna ini, Anda harus menunggu 48 jam sebelum kembali memblokir.

Laporkan komentar ini

Menurut saya, komentar ini:

Komentar diberi tanda bendera

Terima Kasih!

Laporan Anda telah terkirim untuk ditinjau oleh moderator kami
Daftar dengan Google
atau
Daftar dengan Email