Breaking News
0
Versi Bebas Iklan. Tingkatkan pengalaman Investing.com Anda. Hemat hingga 40% Detail selengkapnya

Mengungkap Strategi ‘Kejam’ di Balik Aksi Reverse Stock Saham Bakrie Group !!

Oleh Fransiskus WigunaPasar Saham22/11/2018 08:42
id.investing.com/analysis/mengungkap-strategi-kejam-di-balik-aksi-reverse-stock-saham-bakrie-group--200208618
Mengungkap Strategi ‘Kejam’ di Balik Aksi Reverse Stock Saham Bakrie Group !!
Oleh Fransiskus Wiguna   |  22/11/2018 08:42
Tersimpan. Lihat Item Tersimpan.
Artikel ini telah tersimpan di Item Tersimpan anda
 

creative-trader
creative-trader

Pada acara gathering market outlook minggu lalu ada satu request yang menarik perhatian kami dimana salah satu peserta mengatakan “CTS bahas saham bakrie dong, sudah lama tidak bahas pergerakan bandar bakrie”. Setelah mendapatkan pernyataan itu jujur kami berpikir, kira-kira apa yang bisa dibahas dari Bakrie Grup mengingat sepanjang 2018 ini sepertinya saham bakrie grup tidak seatraktif tahun 2017, bahkan harganya cenderung turun terus. Pertanyaannya kenapa harga saham-saham Bakrie turun terus ? Apakah party bandar bakrie sudah selesai ???

Seperti kita ketahui bulan-bulan akhir tahun 2016 menjadi awal periode kebangkitan saham-saham bakrie grup dimulai dengan bangkitnya saham BUMI (JK:BUMI). Pada waktu itupun kami melihat investor retail sangat optimis dengan masa depan bakrie grup, optimise itu terlihat dari pembahasan di grup-grup saham, survey yang kami lakukan, hingga partisipasi broker-broker retail yang meningkat drastis di saham-saham bakrie grup yang dapat dilihat pada grafik partisipasi retail dari awal kebangkitan hingga bulan November 2018 bawah ini.

creative-trader
creative-trader

Dalam masa euphoria tersebut, kami pun sempet mengingatkan bagaimana kejamnya Bandar Bakrie, supaya rekan-rekan sekalian berhati-hati dalam trading saham-saham dalam Group yang satu ini, dan mengingatkan untuk tidak terlalu optimis di saham ini. Karena kami tahu ketika saham-saham group ini sedang naik akan banyak analis-analis Fundamental musiman yang bermunculan yang membahas fundamental perusahaan-perusahaan group ini, sudah murahnya harga saham mereka, dan banyak alasan lainnya yang dikarang hanya ketika harga sahamnya bergerak naik, sementara ketika harga saham saham ini mulai bergerak turun, analis-analis tersebut menghilang tanpa jejak, atau fokus membahas saham-saham gorengan lainnya yang sedang naik.

Pada waktu itu kami membuat beberapa artikel khusus pembahasan bakrie grup diantaranya :

  1. Ritel Mulai Euforia, DEWA dalam Bahaya!! (26 Januari 2017)
  2. Inikah Awal Kejatuhan Anak-Anak Bakrie Grup ? (8 Februari 2017)
  3. Inikah Akhir Perjalanan Saham-Saham Bakrie Grup ?! (20 February 2017)
  4. Bukti Kehebatan Bandar Bakrie Menjebak Ritel (22 Februari 2017)

Bagi rekan-rekan yang baru trading saham atau ingin melihat pembahasan kami mengenai saham-saham bakrie grup dapat membaca artikel yang kami tulis diatas. Pada artikel kali ini kami tidak akan membahas prediksi saham-saham Bakrie Grup, tetapi kami akan membahas isu yang sedang panas tahun ini yaitu Reverse Stock.

Apa itu Reverse Stock ?

Reverse stock sendiri mungkin terdengar asing bagi rekan-rekan karena sangat jarang emiten yang melakukan reverse stock. Bagi rekan-rekan yang belum mengetahui reverse stock split adalah salah satu aksi korporasi yang tujuannya untuk mengurangi jumlah saham beredar, atau mudahnya reverse stock split adalah kebalikan daripada stock split. Ilustrasi mudahnya seperti gambar dibawah ini :

creative-trader
creative-trader

Tujuan dari reverse stock sendiri bermacam-macam, namun salah satunya karena harga saham sudah terlalu rendah sehingga investor tidak tertarik untuk membeli saham tsb oleh karena dilakukan Reverse stock bertujuan untuk membuat harga saham kembali atraktif untuk diperdagangkan atau banyak alasan lain yang melatarbelakangi dilakukannya reverse stock split.

Apa Hubungannya Reverse Stock dengan Bakrie Grup ?

Seperti kita ketahui beberapa emiten bakrie grup melakukan aksi reverse stock split pada tahun 2017 diantaranya adalah ada ENRG (JK:ENRG), UNSP. Kedua saham ini reverse stock split. Tidak ada masalah apapun saat ENRG dan JK:UNSP melakukan reverse stock split. Masalah baru muncul ketika emiten ELTY berencana melakukan reverse stock split, banyak investor yang menentang aksi korporasi ini karena dianggap merugikan investor ritel.

Hal yang ditakutkan oleh investor retail ELTY adalah pergerakan harga saham pasca dilakukan aksi reverse stock. Maksudnya seperti ini, jika dari contoh reverse stock sebelumnya nilai aset investor di saham A sebelum dan setelah reverse stock akan tetap saham yaitu 50.000, namun kenyataannya pasca aksi reverse stock terutama di bakrie grup umumnya harga akan terjun bebas harganya dan investor retail tidak mendapat kesempatan untuk jualan yang mengakbatkan nilai aset investor tersebut terus turun.

Dalam kasus UNSP jika saya punya 20.000 lot saham UNSP di harga 50 dengan nilai 100 Jt, lalu dilakukan reverse stock dengan rasio 8:1 maka saham ELTY saya akan menjadi 2.500 lot dengan harga 400 dengan nilai 100jt. Nah, yang membuat investor menolak aksi RS ini adalah harga saham umumnya terus turun, anggaplah turun hingga level 150, jika turun hingga harga 150 maka nilai uang saya hanya tinggal tersisa 37,5jt.

Reverse Stock salah satu strategi Bandar Bakrie :

creative-trader
creative-trader

Kami sendiri melihat reverse stock ini merupakan salah satu strategi bandar bakrie. Jika kita melihat pada kasus-kasus reverse stock di UNSP dan ENRG semuanya hampir sama, yaitu pasca reverse stock harga akan turun drastis, lalu ada investor melakukan private placement dengan konversi hutang jadi saham untuk alas an restrukturisasi. Dan ke-2 saham ini kembali digoreng naik namun tidak sampai kembali ke level awal reverse stock split.

Berbeda dengan UNSP dan ENRG yang tidak mendapat perlawanan dari investor ritel, aksi reverse stock ELTY melawan dengan membentuk Forum Investor Penolak Reverse Stock ELTY (FORTY). Dari pengamatan kami memang FORTY ini cukup serius dalam menolak aksi reverse stock ELTY dengan berbagai macam tindakan dari mengirim kritik melalui surat kabar, hingga mengadakan audiensi BEI dan OJK.

Sebuah pertanyaan yang kami pikirkan kemarin adalah :

Kenapa harus reverse stock dulu ? Kenapa tidak konversi saham langsung ? atau kenapa tidak Asset Swap metode yang digunakan untuk melakukan restrukturisasi hutangnya ?

Apa Strategi BANDAR dibalik Reverse Stock ???

Kami akhirnya mendapat jawaban atas pertanyaan diatas ketika mendengar pengumuman bahwa JK:BNBR yang bulan Mei 2018 kemarin baru reverse stock berencana melakukan private placement sebesar 9.38 Triliun sebagai cara perusahaan untuk membayar hutangnya kepada para kreditur. Dan pasca aksi koorporasi tersebut para pemegang saham BNBR sebelumnya akan terdilusi kepemilikannya sebesar 92,3%. Artinya kedepannya 92.3% saham BNBR akan dikuasai oleh kreditur, sementara para investor ritel yang baru saja kehilangan nilai sahamnya hampir 90% setelah penurunan harga BNBR dari 500 ke 50, sekarang akan kehilangan persentasi kepemilikan sahamnya sebesar 92.3%.

Lalu apakah tujuan di balik kedua aksi koorporasi tersebut ?

Jawabannya sederhana, logikanya jika saya salah satu kreditur BNBR dan saya ditawari opsi equity swap (hutang dibayar dengan saham) tentu saya ingin uang saya kembali dan kalau bisa untung dari saham yang saya punya.

Jika perusahaan masih ada isinya dan prospeknya certah tentu saya tidak perlu khawatir, karena saya akan mendapatkan deviden dari saham yang saya punya. Namun jika perusahaan yang bisnisnya saja sudah tidak jelas nasibnya, sulit untuk berharap bisa mendapatkan keuntungan berupa deviden.

Jadi mau tidak mau salah satu exit plan yang bisa kita lakukan adalah dengan menggoreng harga saham ini, lalu menjual saham yang saya miliki ke publik, atau secara tidak langsung meminta ‘publik’ membayar hutang kita.

Namun menggoreng saham BNBR bukanlah perkara yang mudah, karena mayoritas saham beredar di BNBR dipegang oleh Investor Ritel, menurut data KSEI di akhir bulan Oktober 2018 tercatat 32.8% saham BNBR dimiliki oleh para investor individual dalam negeri (alias ritel), artinya kalau BANDAR mau mengangkat saham ini, mereka harus punya cukup dana untuk menampung aksi jual yang dilakukan para investor ritel yang sudah bertahun-tahun ingin keluar dari saham ini. Banyak di antaranya bahkan mengumpulkan saham ini di pasar NEGO di harga 20-30an, yang artinya jika saham ini naik ke 51 saja, akan muncul aksi jual besar-besaran di kalangan investor ritel.

Kalau saya kreditur tentunya saya tidak mau hutang saya dikonversi dalam kondisi seperti ini, Karena kalau begitu apa bedanya saya dengan investor ritel yang sedang nyangkut, bahkan bisa dibilang posisi saya lebih buruk dari banyak investor nyangkut yang membeli di pasar nego.

Nah disinilah letak ‘kejeniusan’ sekaligus ‘kekejaman’ dari aksi Reverse Stock ini, karena dengan dikonversinya harga BNBR dari 50 ke 500, maka ada ruang untuk Bandar menjatuhkan harga saham ini lebih dalam lagi, dan sekarang setelah harganya kembali ke 50, maka hampir bisa dipastikan hampir semua investor ritel di saham ini dalam posisi nyangkut yang sangat parah, dan tidak akan bisa jualan dalam kondisi untung kalau seandainya saham ini naik ke 100 misalnya.

Tidak selesai di situ Aksi Private Placement membuat kepemilikan para pemegang saham sebelumnya terdilusi sebesar 92%, artinya kepemilikan investor ritel yang semulai sebesar 32% akan turun menjadi dibawah 3%, hal ini juga akan menguntungkan bagi para kreditur jika mereka mau mengeluarkan modal untuk menggoreng saham ini, karena kalau harga saham ini naik, merekalah yang paling diuntungkan, tanpa perlu membuat para pemegang saham sebelumnya diuntungkan.

Dan percayalah kalau suatu hari nanti harga BNBR bangkit lagi, akan ada banyak investor ritel yang saat ini belum nyangkut di BNBR yang berbondong-bondong membeli saham ini karena harga sahamnya sedang digoreng pasca private placement. Pada saat itu para analis sekuritas yang memang tidak punya pengetahuan sama sekali tentang Ilmu Bandarmologi akan dengan seenaknya mengatakan :

‘kebangkitan saham BNBR saat ini didorong keberhasilan manajemen me-restrukturisasi hutang mereka, dan saham BNBR sudah layak untuk dibeli ‘

Intinya para investor ritel yang baru, akan berbondong-bondong ‘membayar hutang BNBR’, dan kreditur akan dengan senang hati menjual saham mereka ke publik, sehingga uang mereka bisa kembali.

Jenius bukan ?!! Di tengah kondisi yang begitu sulit, perusahaan yang hampir selalu rugi, dan harga saham terpuruk, BANDAR BAKRIE bisa menemukan win-win solution bagi Bakrie Group dan para Kreditur. Dan kembali investor ritel-lah yang menjadi korbannya.

Kasus ini merupakan pelajaran bagi kita semua, bahwa ada begitu banyak strategi yang terjadi di balik pergerakan harga saham yang kita lihat di monitor, dan manajemen yang jenius tidak selalu mendatangkan keuntungan bagi pemegang saham terutama investor ritel. Sebagai investor ritel kita harus terus belajar membaca pergerakan dan strategi Bandar di balik pergerakan harga saham, bukan hanya sibuk mengamati running trade, menari-narik garis di grafik, dan sibuk memburu saham-saham yang sedang hijau karena digoreng bandar (seperti mayoritas investor ritel yang menjadi korban di BNBR) tanpa mengetahui strategi apa yang sedang dilakukan Bandar dan kemana arah sebenarnya saham tersebut.

Mengungkap Strategi ‘Kejam’ di Balik Aksi Reverse Stock Saham Bakrie Group !!
 

Artikel Terkait

Mengungkap Strategi ‘Kejam’ di Balik Aksi Reverse Stock Saham Bakrie Group !!

Tambahkan Komentar

Panduan Komentar


Kami mendorong Anda untuk menggunakan fitur komentar guna berinteraksi dengan pengguna lain, berbagi perspektif, dan saling bertanya antara penulis dan yang lainnya. Namun demikian, mohon perhatikan beberapa kriteria berikut demi menjaga interaksi berkualitas tinggi yang kita hargai dan harapkan: 

  • Perkaya percakapan
  • Jaga fokus dan hindari keluar jalur. Publikasikanlah hanya materi yang relevan dengan topik yang dibicarakan.
  • Hargai orang lain. Setiap opini, bahkan opini negatif sekali pun, dapat disampaikan secara positif dan diplomatis.
  • Gunakan gaya penulisan baku. Gunakan tanda baca dan huruf besar/kecil dengan sesuai.
  • CATATAN: Tautan dan pesan spam dan/atau bersifat promosi dalam komentar akan dihapus.
  • Hindari melontarkan kata-kata kasar, fitnah, atau serangan pribadi terhadap penulis atau pengguna lain.
  • Komentar harus dalam Bahasa Indonesia.

Pelaku spam atau pelanggaran akan dikeluarkan dari situs dan dilarang melakukan registrasi kembali atas kebijaksanaan Investing.com sendiri.

Tulis pendapat Anda di sini
 
Anda yakin ingin menghapus grafik ini?
 
Kirim
Kirim juga ke :
 
Ganti grafik terlampir dengan grafik baru?
1000
Saat ini Anda tidak dapat menuliskan komentar karena laporan negatif dari pengguna. Status Anda akan ditinjau oleh moderator.
Harap tunggu sesaat sebelum Anda berikan komentar lagi.
Terima kasih atas komentar Anda. Harap diperhatikan bahwa seluruh komentar akan berstatus tunggu hingga mendapatkan persetujuan dari moderator. Karenanya, akan ada jeda waktu sebelum komentar tersebut ditampilkan di situs web kami.
Komentar (1)
Mozla Pramono
Mozla Pramono 09/07/2021 19:25
Tersimpan. Lihat Item Tersimpan.
Komentar ini telah tersimpan di Item Tersimpan
mantab ...perusahaan kqyak gini ga bakal bertahan ..mencari makan dari berhutang ...suatu saat pasti akan terkubur ...diliat dari gaya hidup keluarga besar mereka sudaa keliatan culasnya
 
Anda yakin ingin menghapus grafik ini?
 
Kirim
 
Ganti grafik terlampir dengan grafik baru?
1000
Saat ini Anda tidak dapat menuliskan komentar karena laporan negatif dari pengguna. Status Anda akan ditinjau oleh moderator.
Harap tunggu sesaat sebelum Anda berikan komentar lagi.
Tambahkan Grafik untuk Berkomentar
Konfirmasi Blokir

Anda yakin ingin memblokir %USER_NAME%?

Jika ya, Anda dan %USER_NAME% tidak akan dapat melihat posting satu sama lain di Investing.com.

%USER_NAME% berhasil dimasukkan ke Daftar Blokir Anda

Karena Anda baru saja membatalkan blokir pengguna ini, Anda harus menunggu 48 jam sebelum kembali memblokir.

Laporkan komentar ini

Menurut saya, komentar ini:

Komentar diberi tanda bendera

Terima Kasih!

Laporan Anda telah terkirim untuk ditinjau oleh moderator kami
Disklaimer: Fusion Media would like to remind you that the data contained in this website is not necessarily real-time nor accurate. All CFDs (stocks, indexes, futures) and Forex prices are not provided by exchanges but rather by market makers, and so prices may not be accurate and may differ from the actual market price, meaning prices are indicative and not appropriate for trading purposes. Therefore Fusion Media doesn`t bear any responsibility for any trading losses you might incur as a result of using this data.

Fusion Media or anyone involved with Fusion Media will not accept any liability for loss or damage as a result of reliance on the information including data, quotes, charts and buy/sell signals contained within this website. Please be fully informed regarding the risks and costs associated with trading the financial markets, it is one of the riskiest investment forms possible.
Daftar dengan Google
atau
Daftar dengan Email