😎 Sale Tengah Tahun Eksklusif - Hemat hingga 50% pilihan saham dari AI InvestingProAMBIL SALE

Efek VUCA Menerpa Emas dan Dollar, Akibat Beda Persepsi Pelaku Pasar

Diterbitkan 18/06/2024, 07/10
JKSE
-
BBRI
-

Pernahkah anda mendengar istilah VUCA ? kata itu adalah singkatan dari Volatility,Uncertainty, Complexity, Ambiguity istilah ini diciptakan oleh Warren Bennish salah seorang pakar ekonomi di Amerika. VUCA adalah kondisi dimana kita berada dalam situasi tidak menentu, dengan perubahan yang sangat cepat dan sulit terkontrol, hal ini tentu dipengaruhi oleh perspektif dan berbagai informasi serta perkembangan teknologi, dimana kebenaran akan menjadi sangat subjektif.

Hal ini terjadi dalam berbagai dimensi kehidupan, khususnya yang terkait dengan perekonomian global. Salah satunya adalah terkait kebijakan The Fed, Bank Sentral Amerika yang berencana memotong suku bunganya di tahun ini, yang keputusannya masih simpang siur, seperti kapal yang kehilangan arah.

Hal ini tentu sangat berdampak pada rencana bisnis dan kebijakan pelaku pasar dan juga pemerintah negara lain, dalam hal ini Bank Sentral yang bersiap merespon kebijakan The Fed tersebut. Misalkan Bank Indonesia (BI) yang masih stance dengan suku bunganya yang cukup tinggi di 6,25% jika ini terus berlanjut tentu akan membebani debitur, khususnya pelaku usaha UMKM yang berkontribusi besar pada Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB).

Di sisi lain, sektor perbankan juga akan terkena getahnya, salah satunya adalah Bank Rakyat Indonesia (JK:BBRI), dimana harga sahamnya (BBRI) telah melorot 32% dalam kurun waktu 3 bulan, salah satu penyebabnya adalah menurunya laba bersih emiten pada kuartal 1Q2024 dibanding periode sebelumnya akibat naiknya pencadangan untuk mengantisipasi risiko NPL akibat masih tingginya tingkat suku bunga. Begitu pula kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus anjlok ke level 6734, pada penutupan di hari Jumat (14/06/2024).

Dari pasar global, Indeks Dollar masih memperlihatkan keperkasaanya terhadap mata uang negara lain, termasuk Rupiah yang terus mengalami pelemahan ke level 16.374, tentu kondisi ini sangat memprihatikan dari sisi monetery kita, dalam kaitannya terhadap utang luar negeri dan juga barang impor yang dapat memicu inflasi tinggi, yang jika hal itu terjadi, pastinya akan direspon dengan kebijakan suku bunga yang lebih tinggi oleh Bank Indonesia. Penguatan Dollar ini dipengaruhi oleh sentimen penambahan lapangan kerja baru di Amerika yang mencapai 272K pekerjaan, melampaui konsensus analis sebesar 185K. Begitu pula data Indeks Harga Konsumen Amerika yang berada pada posisi all time high di level 314. Kondisi ini memperlihatkan masih kuatnya perekonomian AS, yang menggiring opini bahwa kemungkinan besar The Fed tidak akan terburu-buru untuk menurunkan suku bunganya

Gold

Di sisi lain, melandainya inflasi tahunan di Amerika, dari 3,5% di bulan Maret, menjadi 3,3% di Mei dan juga tingkat pengagguran yang mencapai 4% atau tertinggi sejak Januari 2022 menjadi salah satu katalis yang dapat diartikan bahwa The Fed akan segera memangkas suku bunganya, hal ini tercermin pada imbal hasil US Treasury note 10 Y yang menyentuh level 4,23%, atau terendah dalam kurun waktu 3 bulan sejak April 2024.

Dollar Index

Berbagai sudut pandang tentunya bukan tanpa alasan, karena hal itu bergantung pada indikator apa yang menjadi acuannya. terlebih lagi kondisi geolpolitik saat ini yang semakin runyam tak bertepi, baik di kawasan Timur Tengah, Ukrania Vs Rusia, mapun China Vs Taiwan yang tensinya semakin memanas.

Yah, kombinasi antara persoalan ekonomi dan keamanan global tentu telah menyeret perekonomian dunia ke dalam arus yang bernama VUCA. Dengan momentum penurunan Fed Fund Rate, kita berharap agar Rupiah bisa menguat lagi, sehingga tidak membawa dampak buruk bagi perekonomian RI.


Komentar terkini

Memuat artikel selanjutnya...
Pengungkapan Risiko: Perdagangan instrumen finansial dan/atau mata uang kripto membawa risiko tinggi, termasuk risiko kehilangan sebagian atau seluruh nilai investasi Anda, dan mungkin tidak sesuai untuk sebagian investor. Harga mata uang kripto amat volatil dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti peristiwa finansial, regulasi, atau politik. Trading dengan margin meningkatkan risiko finansial.
Sebelum memutuskan untuk memperdagangkan instrumen finansial atau mata uang kripto, Anda harus sepenuhnya memahami risiko dan biaya terkait perdagangan di pasar finansial, mempertimbangkan tujuan investasi, tingkat pengalaman, dan selera risiko Anda dengan cermat, serta mencari saran profesional apabila dibutuhkan.
Fusion Media mengingatkan Anda bahwa data di dalam situs web ini tidak selalu real-time atau akurat. Data dan harga di situs web ini. Data dan harga yang ditampilkan di situs web ini belum tentu disediakan oleh pasar atau bursa, namun mungkin disediakan oleh pelaku pasar sehingga harga mungkin tidak akurat dan mungkin berbeda dengan harga aktual pasar. Dengan kata lain, harga bersifat indikatif dan tidak sesuai untuk tujuan trading. Fusion Media dan penyedia data mana pun yang dimuat dalam situs web ini tidak bertanggung jawab atas kerugian atau kehilangan apa pun yang diakibatkan oleh trading Anda atau karena Anda mengandalkan informasi yang dimuat dalam situs web ini.
Anda dilarang untuk menggunakan, menyimpan, memperbanyak, menampilkan, mengubah, meneruskan, atau menyebarkan data yang dimuat dalam situs web ini tanpa izin eksplisit tertulis sebelumnya dari Fusion Media dan/atau penyedia data. Semua hak kekayaan intelektual dipegang oleh penyedia dan/atau bursa yang menyediakan data yang dimuat dalam situs web ini.
Fusion Media mungkin mendapatkan imbalan dari pengiklan yang ditampilkan di situs web ini berdasarkan interaksi Anda dengan iklan atau pengiklan.
Versi bahasa Inggris dari perjanjian ini adalah versi utama, yang akan berlaku setiap kali ada perbedaan antara versi bahasa Inggris dan versi bahasa Indonesia.
© 2007-2024 - Fusion Media Limited. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.