Breaking News
0
Versi Bebas Iklan. Tingkatkan pengalaman Investing.com Anda. Hemat hingga 40% Detail selengkapnya

Bank Jago dan Potensi Bank Digital di Indonesia

Oleh Ellen May Pasar Saham19/05/2021 08:16
id.investing.com/analysis/bank-jago-dan-potensi-bank-digital-di-indonesia-200229937
Bank Jago dan Potensi Bank Digital di Indonesia
Oleh Ellen May   |  19/05/2021 08:16
Tersimpan. Lihat Item Tersimpan.
Artikel ini telah tersimpan di Item Tersimpan anda
 

BANK JAGO (ARTO)

ARTO menjadi Bank Digital dengan ekosistem yang besar setelah Gojek memiliki ARTO sebesar 21.4%. Perkembangan Bank Digital pun diyakini masih memiliki potensi yang besar di masa depan karena faktor:

  • Penetrasi Internet yang pesat

  • Bonus Demografi Indonesia

  • Literasi keuangan yang semakin meningkat

  • Populasi masyrakat unbanked yang tinggi

  • Aturan yang akomodatif

UMKM memiliki peran strategis bagi ARTO untuk menyalurkan kredit dan ARTO sudah memiliki jalan yang lancar untuk ‘menggarap’ pasar tersebut melalui Gojek. Gojek memiliki ekosistem dengan mitra yang mayoritas adalah UMKM. Dengan trend UMKM yang terus bertumbuh, tentu sangat menguntungkan ARTO. Ekosistem Gojek bisa menjadi modal awal ARTO sebagai bank digital dalam bersaing dengan bank lain.

Saat ini kami rekomendasi ARTO HOLD. Saat ini ARTO diperdagangkan di PBV 18.3x, di atas rata-rata PBV 5 tahun sebesar 13.9x. Pendapatan bunga bersih naik 232,28% yoy, menjadi Rp33,47 miliar. Beban operasional lainnya neto meningkat 102% yoy menjadi Rp71,82 miliar. Bank Jago mencatat rugi Rp38,13 miliar per 31 Maret 2021 meningkat dibanding hun lalu Rp25,38 miliar.

Potensi Pasar yang Besar

Potensi dunia digital kedepan baik melihat pengguna internet di Indonesia yang terus bertumbuh. Berdasarkan data APJII, jumlah pengguna internet mencapai 196,7 juta jiwa per Juni 2020. Dari angka tersebut, 55.8% responden membeli kebutuhan secara online. Faktanya adalah, baru 9.8% yang menggunakan layanan keuangan digital seperti m-banking, i-banking, dan uang elektronik untuk membayar transaksinya belanja online tersebut.


Bank Jago - Tentang Kami
Bank Jago - Tentang Kami

Dunia digital dekat dengan dengan generasi Post generasi Z, generasi Z dan Milenialls. Indonesia sendiri memiliki demografi usia yang mayoritasnya adalah penduduk di usia muda sebesar 64.69% dari total penduduk Indonesia atau sebesar 174.8 juta jiwa. Maka dari itu, perusahaan digital termasuk ARTO (bank digital) akan berebut “kue” di pasar demografi tersebut. Para milenials dan gen-z bagi ARTO dapat menjadi user atau sumber funding ARTO. 

Jumlah UMKM Indonesia per 2019 mencapai 65.5 juta unit usaha. UMKM di Indonesia memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ekonomi Indonesia karena berkontribusi kurang lebih 60% terhadap PDB Indonesia. Selain itu UMKM menyerap tenaga kerja sebesar 119.6 juta orang. Total (PA:TOTF) pinjaman UMKM terhadap total PDB mencapai 7% sebesar Rp 1098 triliun. Sementara itu 91,3 juta penduduk unbanked dan 63 juta UMKM menuju ekonomi dan keuangan formal dan sustainable. UMKM ini menjadi potensi besar untuk penyaluran kredit ARTO. Apalagi Gojek memiliki mitra yang didominasi oleh UMKM. Sehingga peluang ARTO untuk penetrasi ke segmen UMKM sudah terbuka.







Sumber: EMTrade, menteri koperasi dan UMKM 

 

Ekosistem Online Gojek

Gojek menjadi pemilik ARTO melalui PT Dompet Karya Anak Bangsa sebesar 21.4%. Kepemilikan ini memberikan ARTO potensi pasar yang besar dari Gojek. Gojek sendiri memiliki 38 juta user aktif bulanan di Indonesia (per 2020).  Selain itu, Gojek juga memiliki hampir 1juta merchant yang mayoritas merupakan UKM/UMKM dan 20 juta driver yang tergabung menjadi mitra Gojek

Pengguna aktif, merchant dan mitra ini menguntungkan ARTO dalam hal akuisisi cutomer yang lebih efektif dan biaya yang murah bagi ARTO. SuperApps Gojek bisa menjadi penghubung ARTO dan calon customernya. Para user misanya berpotensi membuka akun dan meggunakan layanan keuangan di Bank Jago. Sedangkan UMKM dan driver bisa menjadi saluran pemberian kredit usaha bagi ARTO. 

Jika kabar merger Gojek dengan Tokopedia terlaksana dapat menambah jumlah pengguna aktif dan merchant. Per Desember 2020, jumlah penjual di Tokopedia tercatat 9.9 juta. Hal ini membuat ekosistem online Gojek lebih besar lagi dan akan membuat penetrasi ARTO akan lebih luas dari hasil merger kedua unicorn tersebut. 

Penyaluran kredit perlu menjadi perhatian. Jika melihat bagaimana penyaluran kredit online saat ini sangat mudah sekali dan berbeda dengan Bank Konvensional yang memliki verivikasi yang cukup panjang. Jika dengan embel-embel digital kemudian Bank Jago mengadopsi sistem pinjaman online,tentu saja hal ini bisa meningkatkan risiko kredit bagi Bank Jago. Karena verifikasi yang lebih mudah dibanding bank konvensiaonal yang memerlukan beberapa tahap verifikasi.

 

Trend Profibilitas Bank Digital

Dunia digital seperti yang kita tahu identik dengan ‘bakar uang’ dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk BEP bahkan mencapai profit. Lalu bagaimana dengan Bank Digital? 

Berdasarkan riset The Asian Banker, rata-rata Bank Digital di Asia mencapai BEP (Break Event Point) di tahun kedua setelah 5 tahun atau kurang beroperasi. Hal ini didorong dengan pengembangan teknologi baru dan permintaan yang terus meningkat. Sedangka yang sudah beroperasi lebih dari 6 tahun, mencapai titik impasnya di tahun ke-4. 





sumber: The Asian Banker

Di tahap awal, memang ada potensi bank digital tidak langsung mendapatkan untung walaupun potensi sangat besar. Ini dikarenakan oleh biaya-biaya cukup tinggi yang digunakan untuk akuisisi konsumen/nasabah. Namun, pada akhirnya kita bisa berasumsi Bank Digital akan membaik di tahun-tahun berikutnya. 

Ada beberapa faktor yang mendorong hal tersebut. Pertama, tingkat efisiensi yang tingi nantinya di Bank digital dibanding Bank Konvensiaonal karena berkurangnya beban fisik (karyawan, teller, kantor cabang, ATM, dll) akibat digitalisasi operasional. Pada akhirnya akan membuat ROE Bank Digital bisa di level yang tinggi. Jika dilihat trendnya, ROE Bank Digital bisa menembus level 2 digit. 

Selain itu, potensi bunga kredit yang rendah dan bersaing bisa menjadi andalan Bank Digital. Cost of Fund juga diperkirakan akan rendah sehingga bisa menjaga level NIM Bank digital di level yang cukup tinggi.

 

Aturan Bank Digital 

Selama pandemi COVID-19, sudah terjadi perubahan perilaku di kalangan masyarakat menjadi lebih digital, tidak luput juga dari perbankan yang mulai mengurangi transaksi tatap muka karena dinilai lebih praktis dan bisa melakukan transaksi dimana saja dengan teknologi smartphone.

OJK berencana mengeluarkan peraturan mengenai perbankan konvensional dan digital sebelum akhir semester I, meliputi:

  • Adanya perubahan modal inti dari 1 triliun rupiah menjadi 3 - 10 triliun rupiah

  • Untuk yang ingin langsung mendirikan bank fully digital harus memiliki modal inti min. 10 triliun rupiah

  • Memastikan para investor yang ingin menyuntikkan dana ataupun mendirikan bank sudah melengkapi syarat-syarat dan ketentuan yang berlaku 

OJK menjelaskan rancangan POJK ini tidak bertujuan untuk menghilangkan bank-bank kecil, melainkan dengan merubah modal inti dari 1 T jadi 3 T, untuk bank-bank kecil yang tidak mampu menambah modal intinya, bisa mencari induk usaha, sehingga bank kecil kalau masuk kelompok usaha bank jadi bisa menutup kekurangannya. Contohnya bank BCA (JK:BBCA) mengambil bank royal dijadikan bank digital BCA. 

Perubahan modal inti ini sudah sesuai penelitian agar bank dapat beroperasi dengan baik.  Di dalam OJK, pendirian bank baru harus berbadan hukum Indonesia. Bank Asing mengambil alih Bank Indonesia tidak apa-apa.

Bank Jago dan Potensi Bank Digital di Indonesia
 

Artikel Terkait

Bank Jago dan Potensi Bank Digital di Indonesia

Tambahkan Komentar

Panduan Komentar


Kami mendorong Anda untuk menggunakan fitur komentar guna berinteraksi dengan pengguna lain, berbagi perspektif, dan saling bertanya antara penulis dan yang lainnya. Namun demikian, mohon perhatikan beberapa kriteria berikut demi menjaga interaksi berkualitas tinggi yang kita hargai dan harapkan: 

  • Perkaya percakapan
  • Jaga fokus dan hindari keluar jalur. Publikasikanlah hanya materi yang relevan dengan topik yang dibicarakan.
  • Hargai orang lain. Setiap opini, bahkan opini negatif sekali pun, dapat disampaikan secara positif dan diplomatis.
  • Gunakan gaya penulisan baku. Gunakan tanda baca dan huruf besar/kecil dengan sesuai.
  • CATATAN: Tautan dan pesan spam dan/atau bersifat promosi dalam komentar akan dihapus.
  • Hindari melontarkan kata-kata kasar, fitnah, atau serangan pribadi terhadap penulis atau pengguna lain.
  • Komentar harus dalam Bahasa Indonesia.

Pelaku spam atau pelanggaran akan dikeluarkan dari situs dan dilarang melakukan registrasi kembali atas kebijaksanaan Investing.com sendiri.

Tulis pendapat Anda di sini
 
Anda yakin ingin menghapus grafik ini?
 
Kirim
Kirim juga ke :
 
Ganti grafik terlampir dengan grafik baru?
1000
Saat ini Anda tidak dapat menuliskan komentar karena laporan negatif dari pengguna. Status Anda akan ditinjau oleh moderator.
Harap tunggu sesaat sebelum Anda berikan komentar lagi.
Terima kasih atas komentar Anda. Harap diperhatikan bahwa seluruh komentar akan berstatus tunggu hingga mendapatkan persetujuan dari moderator. Karenanya, akan ada jeda waktu sebelum komentar tersebut ditampilkan di situs web kami.
 
Anda yakin ingin menghapus grafik ini?
 
Kirim
 
Ganti grafik terlampir dengan grafik baru?
1000
Saat ini Anda tidak dapat menuliskan komentar karena laporan negatif dari pengguna. Status Anda akan ditinjau oleh moderator.
Harap tunggu sesaat sebelum Anda berikan komentar lagi.
Tambahkan Grafik untuk Berkomentar
Konfirmasi Blokir

Anda yakin ingin memblokir %USER_NAME%?

Jika ya, Anda dan %USER_NAME% tidak akan dapat melihat posting satu sama lain di Investing.com.

%USER_NAME% berhasil dimasukkan ke Daftar Blokir Anda

Karena Anda baru saja membatalkan blokir pengguna ini, Anda harus menunggu 48 jam sebelum kembali memblokir.

Laporkan komentar ini

Menurut saya, komentar ini:

Komentar diberi tanda bendera

Terima Kasih!

Laporan Anda telah terkirim untuk ditinjau oleh moderator kami
Disklaimer: Fusion Media would like to remind you that the data contained in this website is not necessarily real-time nor accurate. All CFDs (stocks, indexes, futures) and Forex prices are not provided by exchanges but rather by market makers, and so prices may not be accurate and may differ from the actual market price, meaning prices are indicative and not appropriate for trading purposes. Therefore Fusion Media doesn`t bear any responsibility for any trading losses you might incur as a result of using this data.

Fusion Media or anyone involved with Fusion Media will not accept any liability for loss or damage as a result of reliance on the information including data, quotes, charts and buy/sell signals contained within this website. Please be fully informed regarding the risks and costs associated with trading the financial markets, it is one of the riskiest investment forms possible.
Daftar dengan Google
atau
Daftar dengan Email