💼 Lindungi portofolio Anda dengan pilihan saham dari AI InvestingPro - SEKARANG DISKON hingga 50% AMBIL SALE

3 Alasan Mengapa the Fed Harus Lebih Hawkish di Tahun 2024

Diterbitkan 22/09/2023, 14/33
US500
-
KC
-
CL
-
SB
-
OJ
-
CC
-
LHc1
-
LCc1
-
RR
-
DBC
-
GPR
-
FC
-
  • Federal Reserve menghentikan kampanye kenaikan suku bunganya pada Rabu setempat namun isyaratkan potensi pengetatan lebih lanjut di masa mendatang.
  • Melonjaknya harga energi dan makanan akan mempersulit the Fed untuk menurunkan inflasi kembali ke target 2%.
  • Oleh karena itu, pasar perlu bersiap atas kemungkinan kenaikan suku bunga yang lebih banyak lagi pada tahun 2024.
  • Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah dalam keputusan yang diharapkan secara luas pada hari Rabu dan menunjukkan nada hawkish kala perjuangan bank sentral yang tengah berlangsung melawan inflasi tampaknya masih jauh dari selesai.

    Para pejabat FOMC mengatakan bahwa mereka masih melihat satu lagi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun ini, dengan suku bunga acuan Fed berada di kisaran 5,50%-5,75%.

    Fed Funds Rate

    Bank sentral AS juga memperingatkan kebijakan moneter yang jauh lebih ketat hingga tahun 2024 daripada yang diperkirakan sebelumnya.

    "Kami berada dalam posisi untuk melanjutkan dengan hati-hati saat kami menilai data yang masuk dan prospek serta risiko yang berkembang," kata Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers setelah rilis pernyataan dan proyeksi.

    "Kami siap untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut jika diperlukan, dan kami berniat untuk mempertahankan kebijakan pada tingkat yang ketat sampai kami yakin bahwa inflasi bergerak turun secara berkelanjutan menuju tujuan kami," kata Powell.

    Namun tiba-tiba, beberapa alarm inflasi kembali berbunyi di tengah naiknya harga energi dan makanan. Memang, lonjakan harga bahan bakar dan makanan yang berlangsung lama akan memecah kemajuan di sisi inflasi, yang berpotensi memaksa the Fed untuk melanjutkan kampanye kenaikan suku bunganya lebih lama dari yang diperkirakan saat ini.

    1. Minyak Naik Kembali Menuju $100

    Lonjakan harga minyak baru ini membuat jalan Federal Reserve menuju target inflasi 2% menjadi lebih sulit.

    Harga minyak WTI, minyak benchmark AS, sempat naik di atas $92 per barel awal pekan untuk pertama kalinya sejak November 2022, menimbulkan kekhawatiran bahwa sumber tekanan inflasi yang signifikan mulai meningkat lagi.

    WTI Crude Oil

    Faktanya, harga minyak telah menguat lebih dari 30% sejak akhir Juni di tengah pengurangan pasokan yang berlangsung oleh Arab Saudi dan Rusia, yang menekan pasar.

    Analis Wall Street mulai berbicara soal harga minyak $100 jika momentum positif di pasar energi terus berlanjut.

    Jika harga minyak terus naik dan mencapai wilayah tiga digit, hal ini dapat menjadi masalah karena naiknya harga energi cenderung meningkatkan biaya input untuk barang dan jasa, sehingga semuanya menjadi lebih mahal.

    "Harga energi yang lebih tinggi adalah hal yang signifikan," kata Powell pada hari Rabu, menambahkan bahwa harga energi yang lebih tinggi dan berkelanjutan dari waktu ke waktu bisa mempengaruhi pengeluaran konsumen.

    2. Harga Bensin Melonjak Lagi

    Harga-harga di pom bensin tiba-tiba melonjak, menyebabkan sakit kepala bagi para konsumen AS dan juga para pejabat the Fed.

    Harga-harga gasoline telah meningkat hampir 9% dalam dua bulan terakhir dalam sebuah rally akhir musim panas yang jarang terjadi, menambah pandangan bahwa inflasi umum akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

    Harga rata-rata nasional untuk satu galon bensin tanpa timbal naik ke level tertinggi 11 bulan di $4,00 pada hari Rabu, yang menurut AAA, merupakan rekor musiman selama 12 bulan.

    U.S. Gas Prices

    Di California, harga gas telah melonjak lebih dari 10% hanya dalam sebulan terakhir rata-rata menjadi $5,79 per galon, angka tertinggi sejak Oktober 2022.

    Tidak biasa melihat harga gas bergerak lebih tinggi saat ini di tahun ini, karena akhir musim mengemudi musim panas di AS cenderung mengurangi permintaan.

    Tren yang mengkhawatirkan, sampai batas tertentu, kini bergantung alam karena datangnya musim badai. Analis telah memperingatkan bahwa badai besar yang menghantam wilayah penting Pantai Teluk AS dapat menaikkan harga bensin nasional hingga $4,50 atau bahkan $4,75 per galon.

    3. Komoditas Pangan Naik

    Bukan hanya minyak dan komoditas-komoditas yang berhubungan dengan energi yang telah menumpuk keuntungan besar dalam beberapa minggu terakhir.

    Harga jeruk telah naik ke tingkat yang sangat tinggi karena kondisi cuaca buruk di Florida dan penyakit tanaman membuat banyak jeruk tidak dapat dimakan. Harga minuman sarapan ini telah naik 22% dalam tiga bulan terakhir.

    Orange Juice

    Sementara itu, anak ternak dan ternak besar juga merupakan beberapa aset dengan kinerja terbaik saat ini. Keduanya naik ke level tertinggi sepanjang masa minggu ini dalam kekhawatiran akan terbatasnya pasokan AS pada tahun depan terus mendorong bull market. Oleh karena itu, harga daging sapi diperkirakan akan menjadi lebih mahal di toko-toko kecil.

    Live Cattle

    Di tempat lain, harga-harga komoditas pertanian lainnya seperti kopi, gula, kakao, beras, dan babi, juga mengalami tren kenaikan, menambah bukti bahwa inflasi pangan meningkat.

    Memang, Invesco DB Commodity Index Tracking Fund (NYSE:DBC) - salah satu ETF utama di sektor ini - telah menguat sebesar 14,3% sejak 1 Juni untuk mencapai level terbaiknya sejak Desember 2022. S&P 500 juga naik 5,2% dalam jangka waktu yang sama.

    Melihat kondisi cuaca, ramalan cuaca pemerintah AS menyebut pekan lalu ada lebih dari 95% kemungkinan pola cuaca El Nino akan berlanjut hingga Maret 2024, bisa memicu kondisi lebih ekstrem yang berpotensi mengganggu pasokan pangan global.

    Kesimpulan

    Naiknya harga minyak dan pangan, yang tidak banyak dikendalikan oleh kenaikan suku bunga The Fed, mungkin akan lebih berpengaruh pada inflasi dalam beberapa bulan mendatang. Saya tidak akan terkejut melihat inflasi berpotensi meningkat mulai dari sini, dengan IHK utama naik kembali ke 5% dalam beberapa bulan ke depan.

    Hal ini jelas akan mengubah narasi jeda Fed untuk saat ini. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, inflasi yang membandel bisa memaksa Ketua Fed Powell untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut dan membiarkannya lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

    ***

    Sign Up for a Free Week Now!

    Disclosure: Pada saat artikel ini ditulis, saya memiliki posisi long di Dow Jones Industrial Average melalui SPDR Dow ETF (DIA). Saya juga memiliki posisi long di Energy Select Sector SPDR ETF (NYSE: XLE) dan Health Care Select Sector SPDR ETF (NYSE: XLV). Selain itu, saya juga memiliki posisi short di S&P 500, Nasdaq 100, dan Russell 2000 melalui ProShares Short S&P 500 ETF (SH), ProShares Short QQQ ETF (PSQ), dan ProShares Short Russell 2000 ETF (RWM).

    Saya rutin melakukan rebalance portofolio saham individu dan ETF saya berdasarkan risk assessment yang sedang berlangsung dari lingkungan ekonomi makro dan finansial perusahaan. Pandangan yang dibahas dalam artikel ini semata-mata merupakan pendapat penulis dan tidak bisa dianggap sebagai saran investasi.

Komentar terkini

Memuat artikel selanjutnya...
Pengungkapan Risiko: Perdagangan instrumen finansial dan/atau mata uang kripto membawa risiko tinggi, termasuk risiko kehilangan sebagian atau seluruh nilai investasi Anda, dan mungkin tidak sesuai untuk sebagian investor. Harga mata uang kripto amat volatil dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti peristiwa finansial, regulasi, atau politik. Trading dengan margin meningkatkan risiko finansial.
Sebelum memutuskan untuk memperdagangkan instrumen finansial atau mata uang kripto, Anda harus sepenuhnya memahami risiko dan biaya terkait perdagangan di pasar finansial, mempertimbangkan tujuan investasi, tingkat pengalaman, dan selera risiko Anda dengan cermat, serta mencari saran profesional apabila dibutuhkan.
Fusion Media mengingatkan Anda bahwa data di dalam situs web ini tidak selalu real-time atau akurat. Data dan harga di situs web ini. Data dan harga yang ditampilkan di situs web ini belum tentu disediakan oleh pasar atau bursa, namun mungkin disediakan oleh pelaku pasar sehingga harga mungkin tidak akurat dan mungkin berbeda dengan harga aktual pasar. Dengan kata lain, harga bersifat indikatif dan tidak sesuai untuk tujuan trading. Fusion Media dan penyedia data mana pun yang dimuat dalam situs web ini tidak bertanggung jawab atas kerugian atau kehilangan apa pun yang diakibatkan oleh trading Anda atau karena Anda mengandalkan informasi yang dimuat dalam situs web ini.
Anda dilarang untuk menggunakan, menyimpan, memperbanyak, menampilkan, mengubah, meneruskan, atau menyebarkan data yang dimuat dalam situs web ini tanpa izin eksplisit tertulis sebelumnya dari Fusion Media dan/atau penyedia data. Semua hak kekayaan intelektual dipegang oleh penyedia dan/atau bursa yang menyediakan data yang dimuat dalam situs web ini.
Fusion Media mungkin mendapatkan imbalan dari pengiklan yang ditampilkan di situs web ini berdasarkan interaksi Anda dengan iklan atau pengiklan.
Versi bahasa Inggris dari perjanjian ini adalah versi utama, yang akan berlaku setiap kali ada perbedaan antara versi bahasa Inggris dan versi bahasa Indonesia.
© 2007-2024 - Fusion Media Limited. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.